Penyakit Tidur Di Afrika

Penyakit Tidur Di Afrika (African Sleeping Sickness)

 

 

 

 

& Penyebab

Penyakit tidur di Afrika disebabkan oleh Trypanosoma brucei gambiense dan Trypanosoma brucei rhodesiense. Spesies ini tergolong dalam protista yang menyerupai hewan (protozoa) dan tergolong ke dalam kelas flagellata (Mastigophora) yang bergerak dengan flagella (cambuk). Jika infeksi didapatkan di Afrika bagian timur biasanya disebabkan oleh Trypanosoma brucei rhodesiense, sedangkan jika infeksi didapatkan di Afrika bangian tengah dan barat, biasanya disebabkan oleh Trypanosoma brucei gambiense. Parasit ini disebarkan oleh lalat tsetse, lalat tsetse sebagai vektor.

& Gejala Penyakit

Gejala penyakit ialah demam, sakit kepala, insomnia, pembengkakan kelenjar limfe tanpa rasa sakit, berat badan menurun. Jika parasit ini dapat masuk ke sistem saraf manusia, penderita akan mengalami kebingungan, perubahan kepribadian, gangguan tidur, dan akhirnya koma sebelum meninggal dunia. Parasit Trypanosoma brucei ini juga dapat menyebabkan radang otak secara perlahan-lahan yang mampu selama beberapa bulan sehingga beberapa tahun menyebabkan kejang, lembam (stupor), koma, dan kematian. Kemudian penderita dapat mengalami anemia, gagal ginjal, dan pembengkakan jantung.

 

& Distribusi Penyakit

Penyakit ini menyebar didaerah tropis benua Afrika antara 150LU dan 200LS, sesuai dengan daerah penyebaran lalat tsetse. Di daerah endemis 0,1% – 2% penduduk terinfeksi. Pada saat terjadi wabah penyakit ini bisa mencapai 70%. KLB dapat terjadi apabila karena sesuatu hal terjadi peningkatan intensitas kontak antara manusia dan lalat tsetse atau strain tripanosoma yang virulen masuk kedaerah dimana densitas lalat tsetse sangat padat. Masuknya strain virulen dimungkinkan oleh karena adanya pergerakan hospes manusia atau lalat tsetse yang terinfeksi ke suatu daerah. Lalat Glossina palpalis merupakan vector utama, dibagian barat dan bagian tengah Afrika. Infeksi biasanya terjadi disepanjang aliran sungai atau anak sungai yang berbatasan dengan daerah yang berhutan.

Di Afrika bagian timur dan danau victoria vector utamanya adalah kelompok G. Morsitans, infeksi terjadi didaerah savana yang kering.

G. fuscipes yang termasuk dalam kelompok palpalis merupakan vector penular penyakit pada saat KLB penyakit tidur jenis rhodiense yang terjadi di Kenya dan Zaire dan vector ini juga sejak tahun 1976 diketahui sebagai vector pada penularan peridomestik di Uganda.

& Penularan Penyakit

Penularan terjadi melalui gigitan lalat tsetse Glossina infektif. Di alam terdapat 6 spesies yang berperan sebagai vektor utama, G. Palpalis, G. Tachinoides, G. Morsitans, G. Pallidipes, G. Swynnertoni dan G.fuscipes. Lalat tsetse terinfeksi karena menghisap darah manusia atau binatang yang mengandung trypanosoma.

Parasit berkembang biak dalam tubuh lalat selama 12-30 hari, tergantung pada suhu dan faktor-faktor lain, sampai terjadi bentuk infektif didalam kelenjar-kelenjar ludahnya. Sekali terinfeksi lalat tsetse akan tetap infektif selama hidupnya (rata-rata 3 bulan, bisa sampai 10 bulan). Infeksi pada lalat tidak diturunkan ke generasi lalat berikutnya. Kemudian lalat tsetse yang telah terinfeksi jika menggigit manusia dapat menyebabkan penyakit tidur ini.

Penularan kongenital dapat terjadi pada manusia. Penularan langsung secara mekanis dapat terjadi melalui darah pada probosis Glossina dan serangga penggigit lainnya, seperti lalat kuda, atau karena kecelakaan di laboratorium.

Penularan kepada lalat tsetse terjadi selama ada parasit didalam darah manusia dan hewan yang terinfeksi. Parasitemia muncul dengan intensitas bervariasi pada saat-saat tertentu pada kasus-kasus yang tidak di obati, parasitemia terjadi pada semua stadium tahapan penyakit. Pada suatu penelitian yang dilakukan terhadap penyakit rhodesiense, parasitemia ditemukan hanya pada 60 % kasus infeksi.

Reservoir (tempat parasit berkembang) ialah manusia, dan binatang buas terutama babi hutan dan sapi peliharaan merupakan reservoir Trypanosoma brucei rhodiense.

Trypanosoma mempunyai trik untuk mengatasi sitem imunisasi tubuh. Setiap gelombang peningkatan parasit di dalam darah penderita mewakili generasi baru parasit dengan bentuk tubuh yang berbeda. Pembentukan parasit ini menyebabkan peningkatan sistem antibodi penderita. Sistem antibodi pada mulanya dapat mempertahankan diri, namun karena terlalu keras bekerja dalam tempo waktu yang panjang, sistem antibodi akan menjadi semakin lemah. Apalagi terkadang sitem antibodi ini menyerang sel-sel tubuh sendiri ketika berusaha memusnahkan parasit yang selalu berubah bentuk.

& Masa Inkubasi

Masa inkubasi infeksi T.b. rhodiensiense yang lebih virulen, biasanya 3 hari sampai dengan beberapa minggu. Masa inkubasi infeksi T.b gambiense yang lebih kronik, berlangsung lebih lama yaitu beberapa bulan sampai bahkan beberapa tahun.

& Kerentanan dan Kekebalan

Semua orang rentan terhadap penyakit ini. Kadang kala terjadi infeksi tanpa gejala baik pada infeksi T b. Gambiense maupun infeksi T.b. rhodesiense. Pernah ada yang melaporkan bahwa ada penderita dengan infeksi jenis gambience tanpa gejala SSP yang sembuh spontan namun laporan ini belum terbukti kebenarannya.

 

& Cara-cara pemberantasan

A. Cara-cara Pencegahan

Memilih cara pencegahan yang tepat harus di dasari pada pengetahuan dan pengenalan ekologi dari vektor dan penyebab penyakit disuatu wilayah. Dengan pengetahuan tersebut, maka suatu daerah dengan keadaan geografis tertentu, dapat dilakukan satu atau beberapa langkah berikut sebagai langkah prioritas dalam upaya pencegahan :

1). Berikan Penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara perlindungan diri terhadap gigitan lalat tsetse.

2). Menurunkan populasi parasit melalui survei masyarakat untuk menemukan mereka yang terinfeksi, obati mereka yang terinfeksi.

3). Bila perlu hancurkan habitat lalat tsetse, namun tidak dianjurkan untuk menghancurkan vegetasi secara tidak merata. Membersihkan semak-semak dan memotong rumput disekitar desa sangat bermanfaat pada saat terjadi penularan peridomestik. Apabila pada wilayah yang telah dibersihkan dari vegetasi liar dilakukan reklamasi dan dimanfaatkan untuk lahan pertanian maka masalah vektor teratasi untuk selamanya.

4) Mengurangi kepadatan lalat dengan menggunakan perangkap dan kelambu yang sudah dicelup dengan deltametrin serta dengan penyemprotan insektisida residual (perythroid sintetik 5%, DDT, dan dieldrin 3% merupakan insektidida yang efektif). Dalam situasi darurat gunakan insektisida aerosol yang disemprotkan dari udara.

5) Melarang orang-orang yang pernah tinggal atau pernah mengunjungi daerah endemis di Afrika untuk menjadi donor darah.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya

1) Laporan kepada Instansi Kesehatan setempat : Di daerah endemis tertentu, kembangkan sistem pencatatan dan pelaporan. Dan galakkan upaya pencegahan dan pemberantasan. Disebagian besar negara penyakit ini bukan penyakit yang wajib di laporkan kelas 3 B (lihat tentang pelaporan Penyakit Menular).

2) Isolasi: Tidak dilakukan. Cegahlah agar lalat tsetse tidak menggigit penderita trypanosomiasis. Di beberapa negara, diberlakukan peraturan pembatasan gerak dari pasien-pasien yang tidak diobati.

3) Disinfeksi serentak: Tidak dilakukan

4) Karantina: Tidak dilakukan

5) Imunisasi terhadap kontak: Tidak dilakukanCreated by microsoft

6) Investigasi kontak dan sumber infeksi : Bila penderita merupakan anggota dari rombongan wisatawan merupakan anggota dari rombongan wisatawan, maka anggota lain dari rombongan tersebut harus diberi tahu agar berhati-hati dan terhadap mereka dilakukan investigasi.

7) Pengobatan spesifik: Bila tidak terjadi perubahan gambaran sel dan kadar protein pada LCS, suramin merupakan obat pilihan untuk infeksi T.b. rhodiense dan pentamidine untuk infeksi T.b. gambiense. Namun obat-obat ini tidak dapat menembus barier darah otak.

T.b. rhodesiense, mungkin sudah resistens terhadap pentamidine, Melarsoprol (Mel-B®) telah digunakan dengan hasil yang sangat efektif untuk mengobati pasien dengan gambaran LCS abnormal untuk semua jenis parasit, namun efek samping yang berat mungkin dapat terjadi pada 5 % – 10 % dari penderita.

Suramin dan melarsoprol bisa didapatkan dan tersedia di Depot Farmasi CDC Atlanta untuk tujuan penelitian. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa Eflornithin (difluoromethylornithine (DFMO), Ornidyl®) lebih baik digunakan untuk pengobatan penyakit gambiense SSP, obat ini sejak tahun 1999 tidak ada dalam persediaan lagi di CDC Atlanta dan penyediaan obat ini oleh WHO dimasa yang akan datang tidak dapat dipastikan. Terhadap semua penderita yang sudah diobati harus dilakukan pemeriksaan ulang 3, 6 dan 24 bulan setelah pengobatan untuk mencegah kemungkinan relaps.

C. Penanggulangan Wabah

Dalam keadaan KLB lakukkan survei massal yang terorganisasikan dengan baik dan berikan pengobatan bagi penderita yang ditemukan serta lakukan pengendalian lalat tsetse.

Bila terjadi lagi KLB di daerah yang sama walaupun sudah melaksanakan upaya-upaya pemberantasan, maka upaya-upaya yang tercantum pada butir 9A harus dilakukan dengan lebih giat.

D. Implikasi bencana: Tidak ada.

E. Penanganan Internasional :

Meningkatkan upaya kerjasama lintas sektor di daerah endemis. Penyebar luasan informasi dan meningkatkan tersedianya bahan dan alat diagnosa sederhana untuk skrining dan upaya sederhana pengendalian vektor.

Kembangkan sistem yang efektif pendistribusian reagen dan obat-obatan. Kembangkan sistem pelatihan pada tingkat nasional dan internasional. Manfaatkan pusat-pusat kerjasama WHO. Kenya sedang mengembangkan perlakuan radiasi pada lalat tsetse jantan agar tidak dapat membuahi lalat betina sehingga populasi lalat tsetse semakin berkurang. Hal ini dilakukan dibawah naungan Lembaga Penelitian Trypanosoma Kenya (Trypanosomiasis Research Institute/TRI).

F. Penemuan Baru

Ilmuwan Korea Selatan Lee Soo-hee menemukan penyembuhan

penyakit yang disebabkan parasit termasuk penyakit tidur Afrika.
Lee (27) saat ini memimpin tim di Sekolah Kedokteran Johns Hopkins. Risetnya dipublikasikan sebagai cerita sampul jurnal biologi “Cell” terbitan 25 Agustus. Penemuannya dipuji sebagai terobosan bagi pengembangan obat baru untuk memerangi penyakit tidur Afrika dan penyakit lainnya.
Lee mengatakan cara pembentukan asam lemak dari lapisan luar sel hewan baru ditemukan setelah penelitian selama tiga tahun. Parasit bernama trypanosome menggunakan enzim yang disebut elongase untuk mengubah lapisan luar mereka, dalam proses dia membubuhkan jejak elongase, untuk menyembunyikannya dari sistem kekebalan manusia.
Penemuan itu dapat membuka jalan bagi pengobatan penyakit yang disebabkan parasit lainnya seperti penyakit tidur, kata Lee.
Penyakit tidur, yang menjadi target utama penelitian Lee, ditularkan melalui gigitan lalat tsetse. Jika parasit berhasil masuk ke sistem saraf manusia, penderita akan mengalami kebingungan, perubahan kepribadian, gangguan tidur dan akhirnya koma sebelum meninggal dunia. Penyakit tidur mengancam lebih dari 60 juta rakyat di 26 negara di Sub Sahara, Afrika. Diperkirakan 300.000 hingga 500.000 orang menderita penyakit ini.

http://simplywonderful-arsilina.blogspot.com/2008/09/penyakit-tidur-di-afrika-african.html

 

Posted on May 7, 2013, in Fakta Dunia. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Silakan tinggalkan komentar .. Kami berhak menghapus kata - kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, antar golongan, porno serta spammer, Terima kasih Kerabat Copaz Blog!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: